18 Juni 2009

Uang Baru Rp. 2.000,-

Uang Baru Rp. 2.000,-


Wajah Antasari pada Pecahan Rp 2.000

Kalimantan Selatan patut berbangga. Pahlawan nasional asal Banua, Pangeran Antasari, akan menjadi cover depan uang pecahan kertas baru Rp 2.000 yang akan diluncurkan Bank Indonesia (BI).

Hal itu diungkapkan Pemimpin Cabang BI Banjarmasin Bramudija Hadinoto pada pertemuan rutin Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah lingkup Pemprov Kalsel di Aula Dinas Kehutanan Kalsel, di Banjarbaru, Rabu (10/6).

"BI akan meluncurkan uang pecahan kertas baru senilai Rp 2.000 dengan gambar depan Pangeran Antasari," ungkap Bramudija.

Menurut dia, direncanakan uang baru itu akan di-launching secara khusus di Kalsel. Karena pahlawan nasional yang turut berjasa memerangi penjajah Belanda itu berasal dari Kalsel. "Kalau tak ada aral melintang, 6 Juli mendatang uang pecahan Rp 2.000 bergambar Pangeran Antasari kita luncurkan di Banjarmasin," katanya.

Pemilihan Pangeran Antasari untuk gambar depan uang baru sudah melalui proses pertimbangan cukup lama. Selain itu, sudah menjadi kebiasaan rupiah selalu menampilkan pahlawan nasional sebagai bentuk penghargaan.

"Pangeran Antasari itu Pahlawan Nasional. Jadi, wajar jika kita berikan penghormatan seperti pahlawan lainnya yang dipasang di uang pecahan yang sekarang ini sudah beredar," cetus Bramudija.

Saat ini, tambah dia, uang pecahan baru Rp 2.000 belum dicetak. Biasanya, proses pencetakan dilakukan saat mendekati launching. Jumlah yang dicetak belum dipastikan, tetapi yang pasti lebih dari Rp 1 miliar.

"Untuk penyebaran perdananya nanti kita prioritaskan Kalsel agar warga di daerah ini bisa memilikinya," ujarnya.

Pangeran Antasari adalah Pahlawan Nasional Indonesia. Dia meninggal karena penyakit cacar di pedalaman Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Kerangkanya dipindahkan ke Banjarmasin dan dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar (Komplek Makam Pangeran Antasari), Banjarmasin Utara, Banjarmasin.

Pada 14 Maret 1862 menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin di hadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Tanah Dusun Atas, Kapuas, dan Kahayan yaitu Kiai Adipati Jaya Raja.

Semasa mudanya dia bernama Gusti Inu Kartapati. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir bin Sultan Muhammad Aminullah, dan ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman.

Pangeran Antasari pernah meledakkan kapal milik Belanda Onrust dan juga pemimpin-pemimpinnya yang bernama Letnan der Velde dan Letnan Bangert. Setelah wafat, perjuangan beliau dilanjutkan keturunannya, Sultan Muhammad Seman dan cucunya Ratu Zaleha.

Tarian Dayak

Menurut Bramudija, untuk cover belakang uang pecahan baru yang akan diberi warna krem itu, juga akan memasang gambar tarian asal Provinsi Kalteng.

"Gambar belakang tarian Dayak. Namanya sengaja dinamakan secara umum dengan tarian Dayak. Ini mengikuti saran Gubernur Teras Narang. Karena menurut pakar, tarian itu banyak sekali namanya, mulai giring-giring, tari panen sampai perang," ujarnya.

Uang kertas pecahan Rp 2.000 diluncurkan dengan tujuan efisiensi dan efektivitas proses transaksi serta memudahkan masyarakat.
Pejabat sementara (Pjs.) Gubernur Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom, didampingi Deputi Gubernur Bank Indonesia bidang pengedaran uang, S. Budi Rochadi, Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin, dan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, secara resmi meluncurkan uang kertas baru pecahan Rp2.000 tahun emisi 2009 sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia, pada Kamis, 9 Juli 2009, di Banjarmasin. “Penerbitan uang kertas emisi baru tersebut merupakan implementasi kebijakan Bank Indonesia di bidang pengedaran uang yaitu untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar”, demikian Pjs. Gubernur Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom, dalam sambutannya.

Uang pecahan baru tersebut bergambar Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan) dengan gambar bagian belakang Tarian Adat Dayak. Uang tersebut akan berlaku sebagai alat pembayaran yang sah mulai tanggal 10 Juli 2009. Pemilihan gambar pada uang tersebut mengacu kepada desain uang kertas sebelumnya yang bertemakan Pahlawan Nasional. Hal ini sebagai bentuk apresiasi kepada para pahlawan dan untuk turut serta melestarikan budaya bangsa.

Uang kertas baru pecahan Rp2.000 berwarna dominan abu-abu dengan unsur pengaman berupa tanda air bergambar Pangeran Antasari dengan benang pengaman yang tertanam di kertas uang dan bertuliskan BI2000 berulang-ulang yang akan memendar merah di bawah sinar ultraviolet. Uang kertas pecahan baru ini juga mengakomodasi kebutuhan para tuna netra dengan menyediakan kode tertentu (blind code) di samping kanan bagian muka uang yaitu berupa kotak persegi panjang yang dicetak secara intaglio.

Selain itu, seperti pada saat mengeluarkan uang kertas baru pecahan Rp100.000 dan Rp20.000 tahun emisi 2004, serta Rp50.000 dan Rp10.000 tahun emisi 2005, Bank Indonesia juga mengeluarkan Uncut Banknotes Rp2.000 (uang khusus yang belum dipotong/uang bersambung) sebanyak 4.700 lembaran dengan jenis uang bersambung masing-masing berisi 2 bilyet, 4 bilyet dan 50 bilyet. Sebagai benda koleksi, Uncut Banknotes ini lazim dikeluarkan di berbagai negara sebagai penerbitan uang khusus.

25 komentar:

  1. ditunggu launchingnya
    :-)

    BalasHapus
  2. Rasanya tepat menerbitkan uang ini, karena ada jarak cukup lebar antara pecahan 1000 dan 5000. Ibarat dunia digital yang kelipatan 2, dari 100, 200, 500, 1000, 2000, 5000, 10rb, 20rb, dst. Jadi 2000 mengisi tempat yang kosong.

    BalasHapus
  3. wah brita bagus tuh

    BalasHapus
  4. artinya : rakyat Indonesia secara umum makin kere.
    jadi ingat salah satu negara di afrika, yang kalo mau beli segelas eskrim aja bayarnya pake uang sekarung.

    BalasHapus
  5. buktinya di amerika serikat & banyak negara eropa barat uang 1 bahkan 1/100 masih laku tuh. Bisa beli permen, naik bis, beli koran, makan siang dsb.

    maksudnya kere secara internasional, mata uang identitas bangsa kita makin tidak dianggap.

    BalasHapus
  6. oops oops...
    ambil postif ny aja deh mas mas n mbak mbak...
    just hv a good respond! :)

    BalasHapus
  7. Bagus juga sih ada uang 2000-an, tp uang 1000-an masih tetap ada kan? Terus terang saja, uang di negara kita seperti Rp. 25, Rp. 50, Rp. 100, Rp. 200 udah ngak dianggap, buktinya buat bayar transjakarta ( busway ) aja ditolak. Parah ngak tu ?????????????

    BalasHapus
  8. Setuju banget,,,
    Tapi uang pecahan Rp.25,50,100 gimana,,,

    BalasHapus
  9. wah uang 1000 patimura jadi bisa disimpan donk buat koleksi, uang 100 perahu layar aja sekarang sudah naik 700% dari harga aslinya dipasaran numismatik...:)

    BalasHapus
  10. nice info bro...
    salam kenal :D
    tukeran link nyoook...

    BalasHapus
  11. ehmmm menarik euy Rp 2000 ....
    wew spt apa yak nantinya

    BalasHapus
  12. djuppang sinaga20/6/09 09:04

    Antasari... Nama ini pernah menjadi berita besar diluar Berita Pahlawan. Semoga gambar dibelakangnya bukan Rani.

    BalasHapus
  13. Bagaimana kalo kita kembali aja ke basic economy yg menggunakan mata uang GoldDinar n SilverDirham.
    Dijamin bebas inflasi.
    Sejak ratusan bahkan seribuan tahun yl hingga saat ini, harga seekor kambing tetap 1 Dinar n harga seekor ayam tetap 1 Dirham.
    So?

    BalasHapus
  14. kok nanggung amat ya nilai pecahannya?
    btw thanks atas infonya

    BalasHapus
  15. pernando ritonga21/6/09 01:00

    ada fhotonya ga boss

    BalasHapus
  16. berarti ga ada kemajuan donk hiksss....makin sulit nyari recehan sekarang....makin tinggi donk ya harga-harga

    BalasHapus
  17. mau uang 2000, 2500, 6000 tetap aja gak da pengaruh sama rakyat, rakyat tetap miskin...hiks...hiks...

    BalasHapus
  18. apalah.....apapun bentuknya mata uang kita ya....ekonomi kita tetap terpuruk dan terpuruk......kecuali......para pemimpin kita tidak maruk dan tidak cari keuntungan pribadi dan golongan.....

    BalasHapus
  19. apalah.....apapun bentuknya mata uang kita ya....ekonomi kita tetap terpuruk dan terpuruk......kecuali......para pemimpin kita tidak maruk dan tidak cari keuntungan pribadi dan golongan.....

    BalasHapus
  20. kalo mau gak terpuruk , ganti aja mata uang nya pake dinar atau emas, hehehe........

    BalasHapus
  21. wow...,
    mas djuppang sinaga ada2 saja...
    bagus juga ada pecahan 2000..,
    biar memudahkan transaksi...
    ditunggu uangnya..

    BalasHapus
  22. kok blom pernah liat di jakarta yak? kapan niy rupiah menang lawan dollar??

    BalasHapus
  23. Weleh. . . Defaluasi.
    Ambil baiknya aja deh

    BalasHapus

Terima Kasih!